Penyakit Pikun pada Usia Muda, Kenali Gejalanya

Penyakit Pikun pada Usia Muda, Kenali Gejalanya

Penyakit Demensia pada Usia Muda,
 Demensia Pada Lansia, Penyakit Pikun pada Usia Muda, Penyakit Demensia dan Alzheimer


Bagi mereka yang sering lupa bisa jadi sedang mengalami gejala demensia atau sindrom gangguan penurunan fungsi otak. 


Penyakit ini sangat berpengaruh pada kemampuan fungsi kognitif, emosi dan perilaku aktivitas sehari-hari.


“Deteksi dini terhadap Alzheimer, yang dapat membantu penderita dan keluarganya dalam menghadapi dampak penurunan fungsi kognitif dan pengaruh psiko-sosial dengan lebih baik,” ujar Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), Dr. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K) dalam webinar Senin (14/9).


Saat ini diperkirakan lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia. 


Sebesar 60-70 penderita dimensia dari jenis demensia Alzheimer atau populer dengan pikun. Di Indonesia diperkirakan jumlah penderita Alzheimer pada 2013 mencapai satu juta orang.


Jumlah penderita demensia bisa meningkat dua kali lipat pada 2030, dan menjadi empat juta orang pada 2050. 


“Bisa meningkat karena masyarakat kurang sadar dan memahami tentang demensia Alzheimer yang berakibar pada stigmatisasi dan hambatan dalam diagnosis dan perawatan,” lanjut Dodik.


Lebih jauh ia menuturkan, edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan secara terus menerus sangat penting. 


Kolaborasi dengan berbagai pihak dapat memperluas cakupan edukasi dapat meminimalkan jumlah penderita Alzheimer di masa depan.


Masyarakat masih menganggp pikun hanya dialami oleh lansia sehingga demensia Alzheimer seringkali tidak terdeteksi. 


Penyakit Pikun pada Usia Muda, Kenali Gejalanya


Padahal menurut para ahli gejalanya sindrom ini dapat dialami sejak usia muda (early on-set demensia).


Meskipun demensia sebagian besar dialami oleh lansia, kondisi ini bukanlah hal yang normal. 


Demensia Alzheimer merupakan penyebab utama ketidakmampuan dan ketergantungan lansia terhadap orang lain..


“Demensia Alzheimer faktor risikonya dapat dimodifikasi.Yang tidak dimodifikasi yaitu usia lanjut, genetik yaitu memiliki keluarga yang mengalami demensia Alzheimer,”  kata Ketua Studi Neurobehavior Perdossi, dr. Astuti, Sp.S(K),  


Selain bersifat genetik penyakit Alzheimer bersifat kronis progresif, artinya semakin lanjut usia kerusakan otak semakin bertambah. 


“Oleh karenanya dengan mengatahui faktor risiko maka deteksi dini pasien dapat lebih cepat ditangani sehingga kerusakan otak karena Alzheimer dapat diperlambat,” ujar dia.


President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi, mengatakan, “


Penyakit Alzheimer dapat dideteksi sejak awal sehingga bisa secepatnya ditangani. Dengan alat E-Memory Screening (EMS) dokter dapat melakukan deteksi dini agar bisa dapat segera diobati,” ujar dia. han